Pelaku Penyerangan Gudang Batok Tamora Belum Ditangkap, Warga Diminta Waspada

Peristiwa penyerangan yang terjadi di gudang batok kelapa di Tanjung Morawa pada 11 Agustus 2026, masih menyisakan banyak pertanyaan dan kekhawatiran di kalangan masyarakat. Hingga saat ini, pelaku dari insiden tersebut belum juga ditangkap, membuat warga setempat merasa terancam dan waspada.
Kronologi Penyerangan di Gudang Batok Tamora
Kasus penyerangan yang terjadi di Jalan Industri Gang Sawi, Dusun II, Desa Tanjung Morawa-B, Kecamatan Tanjung Morawa, Deli Serdang ini dianggap lambat penanganannya oleh pihak kepolisian. Pada malam penyerangan, dua orang korban, Anton Wijaya (41) dan Fandi Fong, mengalami luka serius akibat tembakan dan bacokan.
Anton Wijaya, yang ditemui pada 28 Agustus 2026, terpaksa menggunakan kursi roda akibat cedera yang dialaminya. Menurut penjelasannya, insiden itu berawal dari perselisihan antara seorang sopir di gudang milik keluarganya dengan seorang pria bernama Jimi. Perselisihan ini memicu kekhawatiran di pihak keluarga Anton.
Permohonan Keluarga untuk Kembali ke Gudang
Orang tua Anton segera menghubungi abangnya, Surianto, untuk meminta agar Anton dan Fandi kembali ke gudang. Mereka merasa situasi semakin tidak aman. Surianto, yang berada di Medan, meminta Anton untuk segera pergi ke lokasi tersebut. Anton pun berangkat ke gudang bersama saksi bernama Feri.
Serangan Mendadak
Tak lama setelah kedatangan Anton, sekitar tujuh pria bersenjata, baik dengan senapan angin maupun senjata tajam, menyerbu gudang. Mereka melakukan penyerangan secara brutal, menyerang orang-orang yang ada di sana dan merusak kendaraan yang terparkir di dalam gudang. Dalam keadaan panik, Anton dan Fandi menjadi sasaran tembakan dari jarak dekat.
Saksi lain yang berada di lokasi berusaha menyelamatkan diri dengan bersembunyi di dalam sebuah kamar. Anton menceritakan, “Saya terjatuh di lantai setelah ditembak. Keluarga saya juga dikejar, dan mereka bersembunyi di kamar yang terus menerus ditendang.”
Akibat Serangan
Akibat dari penyerangan ini, Anton mengalami luka serius dan harus menjalani operasi untuk mengeluarkan tiga peluru yang bersarang di tubuhnya, termasuk di bagian perut, dada, dan paha. Sementara Fandi Fong menderita luka tembak di lengan kirinya. Keluarga korban segera melaporkan insiden ini ke Polsek Tanjung Morawa dengan nomor laporan: LP/B/323/VIII/2026/SPKT/POLSEK TANJUNG MORAWA/POLRESTA DELI SERDANG.
Tuntutan Keluarga dan Pengacara
Anton Wijaya berharap pihak kepolisian segera menangkap para pelaku penyerangan yang diduga terhubung dengan salah satu organisasi masyarakat. Dia merasa sangat terganggu oleh insiden ini dan merasa keselamatannya terancam. “Saya berharap Polda Sumut mengambil alih kasus ini. Hingga saat ini, belum ada perkembangan signifikan terhadap pelaku lain,” ungkap Anton dengan penuh kekesalan.
Kuasa hukum Anton, Bambang Samosir, juga menyampaikan kekecewaannya terhadap Polsek Tanjung Morawa. Menurutnya, penanganan kasus ini tidak maksimal. Polisi hanya menerima penyerahan diri dari Jimi, yang mengaku sebagai pelaku penembakan dan pembacokan.
Permohonan Pengacara untuk Penanganan yang Lebih Serius
“Kami telah mengajukan surat permohonan untuk mengambil alih kasus ini. Kami merasa kecewa dengan kinerja Polsek Tanjung Morawa yang tidak menunjukkan upaya maksimal dalam menangani insiden penembakan ini,” tegas Bambang Samosir.
Pentingnya Waspada di Lingkungan Masyarakat
Situasi ini menjadi pelajaran bagi masyarakat di sekitar Tanjung Morawa untuk lebih waspada. Insiden penyerangan seperti ini dapat terjadi kapan saja, dan sering kali di luar dugaan. Masyarakat diharapkan dapat lebih memperhatikan lingkungan sekitar dan melaporkan kegiatan mencurigakan kepada pihak berwenang.
Beberapa langkah yang dapat diambil oleh warga untuk meningkatkan keamanan antara lain:
- Melaporkan aktivitas yang mencurigakan kepada pihak kepolisian.
- Membangun komunikasi yang baik antar tetangga untuk saling mengawasi.
- Berpartisipasi dalam kegiatan keamanan lingkungan, seperti ronda malam.
- Meningkatkan kesadaran akan pentingnya keselamatan pribadi dan keluarga.
- Memanfaatkan teknologi, seperti aplikasi keamanan, untuk melaporkan kejadian darurat.
Kesimpulan
Penyerangan di gudang batok Tamora menjadi perhatian serius bagi masyarakat dan pihak berwenang. Dengan adanya tuntutan dari korban dan pengacara, diharapkan kasus ini bisa ditangani dengan lebih baik. Masyarakat juga perlu tetap waspada dan proaktif dalam menjaga keamanan lingkungan. Dengan kerja sama antara warga dan pihak kepolisian, diharapkan kejadian serupa tidak terulang di masa depan.




