Kasus Brio Binjai Memanas, Perubahan Pernyataan Polisi Tuntut Evaluasi Kapolda Sumut

Polemik mengenai penanganan kasus Brio Binjai semakin meningkat setelah insiden kecelakaan mobil Honda Brio yang menabrak kios kuliner di Pasar Kaget, Kota Binjai, pada malam hari Minggu, 15 Maret 2026. Kejadian ini tidak hanya menimbulkan kerugian fisik, tetapi juga menciptakan kegaduhan di kalangan masyarakat terkait pernyataan yang dinilai tidak konsisten dari pihak kepolisian.
Kronologi Kejadian
Peristiwa nahas ini terjadi ketika mobil berpelat BK 1796 RAA meluncur dan menghantam sejumlah kios yang ada di kawasan tersebut. Akibat dari kecelakaan ini, empat orang mengalami luka-luka dan beberapa pedagang kehilangan tempat berjualan mereka.
Indikasi Kondisi Pengemudi
Saksi mata di lokasi kejadian mengungkapkan bahwa mereka merasakan ada yang tidak beres dengan pengemudi, yang terlihat tidak sepenuhnya sadar setelah insiden. Hal ini menjadi titik awal spekulasi di kalangan warga mengenai kondisi pengemudi saat mengemudikan kendaraan.
Pernyataan Awal dari Kepolisian
Pada hari Senin, 16 Maret 2026, pihak kepolisian yang diwakili oleh Kasat Lantas Polres Binjai, AKP Indra Jansen Girsang, dan Kasi Humas, AKP Junaidi, mengungkapkan kepada wartawan bahwa hasil pemeriksaan awal menunjukkan bahwa pengemudi positif menggunakan narkoba. Informasi ini cepat menyebar dan menjadi sorotan di berbagai media.
Pembalikan Pernyataan
Namun, hanya dalam beberapa jam setelah pernyataan tersebut, pihak kepolisian meralat informasi tersebut dan menyatakan bahwa hasil tes urine pengemudi justru negatif. Kasat Lantas menjelaskan bahwa pemeriksaan awal yang dilakukan sekitar pukul 03.00 WIB menunjukkan hasil yang masih “samar”. Oleh karena itu, dilakukan tes ulang pada pukul 17.00 WIB yang menunjukkan hasil negatif.
Akibat dari Ketidakkonsistenan Informasi
Perubahan informasi dalam waktu singkat ini menimbulkan kebingungan di kalangan masyarakat. Terlebih, informasi awal telah menyebar luas sebelum adanya klarifikasi. Hal ini menciptakan ruang untuk spekulasi dan keraguan terhadap kredibilitas institusi kepolisian.
Tanggapan dari Masyarakat
Wakil Sekretaris Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Sumatera Utara, Leriadi, menilai bahwa situasi ini tidak bisa dianggap sepele. Ia berpendapat bahwa ketidakkonsistenan informasi mencerminkan lemahnya standar verifikasi dalam komunikasi publik oleh aparat kepolisian.
- Dalam sehari, publik menerima dua versi informasi.
- Meningkatkan potensi spekulasi liar di masyarakat.
- Menuntut pertanggungjawaban dari aparat penegak hukum.
- Kredibilitas institusi di bawah ancaman.
- Perlu evaluasi untuk mencegah terulangnya kejadian serupa.
Tanggung Jawab Aparat Penegak Hukum
Leriadi menegaskan pentingnya aparat penegak hukum untuk memastikan bahwa informasi yang disampaikan kepada publik berdasarkan data yang valid dan dapat dipertanggungjawabkan. Ia menyatakan, “Jika informasi disampaikan tanpa melihat langsung hasil pemeriksaan, maka ini menjadi catatan serius.”
Seruan untuk Evaluasi
Lebih lanjut, ia mendesak Kepolisian Daerah Sumatera Utara untuk segera melakukan evaluasi terhadap kinerja Kasat Lantas dan Kasi Humas Polres Binjai. “Kami meminta Kapolda Sumut untuk melakukan evaluasi agar kejadian serupa tidak terulang,” ujarnya dengan tegas.
Pentingnya Transparansi dalam Proses Hukum
Selain itu, Leriadi juga menyerukan agar dilakukan tes urine ulang secara transparan. Hal ini dianggap penting untuk memastikan kepastian hasil pemeriksaan dan meredam polemik yang terjadi di masyarakat.
Langkah untuk Menghindari Polemik Berkelanjutan
“Untuk menghindari polemik yang berkepanjangan, perlu dilakukan tes ulang yang terbuka dan akuntabel,” tambahnya. Dalam era di mana informasi mudah diakses, setiap pernyataan dari aparat akan cepat membentuk opini publik.
Dampak Ketidakkonsistenan Informasi
Ketidakkonsistenan informasi yang disampaikan oleh aparat dapat berdampak luas. Selain mempengaruhi berita yang beredar, hal ini juga berpotensi menggerus kepercayaan masyarakat terhadap institusi hukum yang seharusnya menjaga keadilan dan keamanan.
Secara keseluruhan, kasus Brio Binjai menjadi cermin bagi institusi kepolisian untuk lebih berhati-hati dalam menyampaikan informasi. Kejelasan dan konsistensi adalah kunci untuk membangun kembali kepercayaan masyarakat terhadap aparat penegak hukum.


