Indonesia Membutuhkan 200 Ahli Nuklir demi Mendukung Pembangunan PLTN 2032: Sebuah Kebutuhan Mendesak

Indonesia berada di ambang revolusi energi baru, dengan rencana ambisius untuk membangun pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) pertama yang ditargetkan beroperasi pada 2032. Namun, tantangan besar yang dihadapi adalah kebutuhan mendesak akan peneliti baru di bidang nuklir. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memproyeksikan bahwa sekitar 200 ahli nuklir baru akan dibutuhkan untuk mendukung pengembangan energi nuklir nasional.
Kebutuhan Talenta Riset dan Teknologi Nuklir
Menurut Deputi Bidang Sumber Daya Manusia Ilmu Pengetahuan dan Teknologi BRIN, Edy Giri Rachman Putra, kebutuhan ahli nuklir baru ini muncul seiring dengan peningkatan kebutuhan talenta riset dan teknologi untuk memperkuat ekosistem ketenaganukliran di Indonesia. “Kami memproyeksikan kebutuhan hampir 200 peneliti baru di bidang kenukliran untuk mendukung pengembangan riset dan teknologi ke depan,” ujar Edy dalam sebuah diskusi kelompok fokus.
Pentingnya Pengembangan Sumber Daya Manusia
Edy menjelaskan bahwa pengembangan sumber daya manusia (SDM) menjadi faktor penting dalam menyiapkan Indonesia memasuki era energi nuklir. Ini sangat penting untuk mendukung tahapan riset, pengembangan teknologi, hingga operasional pembangkit di masa depan. Namun, upaya ini bukanlah tugas yang mudah. Salah satu tantangan yang dihadapi adalah terbatasnya minat talenta muda untuk berkarier di bidang riset nuklir.
Tantangan Rekrutmen Ahli Nuklir
Salah satu tantangan dalam memenuhi kebutuhan SDM nuklir adalah menarik minat talenta muda untuk berkarier di bidang ini. Edy menyebutkan bahwa bahkan lulusan pendidikan di bidang nuklir pun tidak semuanya memilih untuk melanjutkan karier sebagai peneliti di sektor tersebut. “Tantangannya memang tidak mudah mencari orang yang mau berkarier sebagai peneliti nuklir. Bahkan lulusan dari pendidikan nuklir sendiri belum tentu semuanya masuk ke bidang ini,” katanya.
Pentingnya Link and Match
Selain keterbatasan jumlah talenta, BRIN juga menekankan pentingnya memperkuat link and match antara dunia pendidikan dan kebutuhan industri nuklir. Menurut Edy, sektor ini tidak hanya membutuhkan lulusan dengan ijazah akademik, tetapi juga kompetensi teknis yang terstandar dan diakui industri.
Upaya Memperkuat Pengembangan Talenta Nuklir
Dalam upaya memperkuat pengembangan talenta nuklir, BRIN menyiapkan berbagai program penguatan kapasitas SDM, baik melalui pendidikan formal maupun pelatihan profesional. Salah satunya melalui kerja sama dengan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) untuk menyediakan skema beasiswa khusus bagi pengembangan talenta di bidang ketenaganukliran.
Program Pelatihan untuk Meningkatkan Kapasitas
Selain itu, BRIN juga merencanakan penyelenggaraan berbagai program pelatihan, termasuk Nuclear Energy Management School, yang dirancang untuk memperkuat kapasitas manajemen proyek energi nuklir di Indonesia. Program tersebut diharapkan dapat melibatkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari peneliti, perguruan tinggi, hingga industri, sehingga pengembangan SDM nuklir dapat dilakukan secara lebih kolaboratif.
Peran Penting Jabatan Fungsional
Deputi Bidang SDM Aparatur Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (KemenPANRB), Aba Subagja, menjelaskan bahwa jabatan fungsional memiliki peran penting sebagai fondasi utama dalam penguatan ekosistem riset dan inovasi di lembaga pemerintah. Di BRIN, misalnya, pengembangan riset dan inovasi sangat bergantung pada keberadaan peneliti dan perekayasa yang menjadi tulang punggung organisasi.
Penataan Kebutuhan SDM ASN
Aba menambahkan bahwa saat ini juga tengah dilakukan penataan kebutuhan SDM aparatur sipil negara (ASN), termasuk melalui penyusunan postur ASN di BRIN untuk melihat komposisi kebutuhan pegawai secara lebih proporsional. Dengan pendekatan tersebut, kebutuhan tenaga ahli pada bidang tertentu, termasuk tenaga nuklir, dapat direncanakan secara lebih sistematis dalam jangka menengah.
Penguatan Manajemen Talenta
Aba menekankan bahwa penguatan manajemen talenta menjadi kunci agar SDM ilmu pengetahuan dan teknologi di lembaga pemerintah dapat berkembang sekaligus bertahan dalam jangka panjang. “Talenta-talenta di bidang iptek perlu dikelola dengan baik, mulai dari perencanaan kebutuhan, pengembangan kompetensi, hingga manajemen kariernya,” tandasnya.
