Pemprov Sumut Tingkatkan Pengembangan Kawasan Perikanan Unggulan dari Hulu ke Hilir

Pembangunan sektor perikanan di Indonesia, khususnya di Provinsi Sumatera Utara, merupakan aspek penting yang tidak hanya berkontribusi terhadap perekonomian regional tetapi juga meningkatkan kesejahteraan masyarakat nelayan. Dengan pemahaman akan potensi besar yang dimiliki, Pemerintah Provinsi Sumatera Utara berkomitmen untuk mengembangkan kawasan perikanan unggulan dari hulu hingga hilir. Strategi ini bertujuan untuk menciptakan ekosistem yang mendukung pertumbuhan sektor perikanan tangkap dan budidaya, serta memastikan keberlanjutan sumber daya laut.
Pembangunan Terintegrasi dari Hulu ke Hilir
Pemprov Sumut, melalui Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP), telah merancang rencana induk untuk pengembangan kawasan perikanan unggulan. Rencana ini mencakup kolaborasi dengan Universitas Sumatera Utara, yang bertujuan untuk menciptakan pendekatan yang terintegrasi dan berkelanjutan dalam pengelolaan sumber daya perikanan.
Prioritas Pengembangan Kawasan
Kepala Bidang Perikanan Tangkap DKP Sumut, Jenny Masniari Sinaga, menjelaskan bahwa fokus pengembangan pada tahun 2026 adalah wilayah pantai barat dan pantai timur. Tahun berikutnya, perhatian akan beralih ke Kepulauan Nias. Penetapan lokasi ini didasarkan pada potensi dan produktivitas perikanan yang ada di masing-masing daerah.
Sebagai contoh, pada tahun 2025, total produksi perikanan di Sumut mencapai 382.127,77 ton, dan target untuk tahun 2026 adalah 383.036,91 ton. Hingga triwulan kedua tahun 2026, capaian produksi sudah mencapai 200.931,45 ton. Beberapa daerah yang menunjukkan produktivitas tinggi termasuk Tapanuli Tengah, Batubara, Asahan, dan Tanjungbalai.
Dasar Penentuan Kawasan Unggulan
Data produksi perikanan menjadi landasan penting dalam pemilihan lokasi pengembangan kawasan unggulan. Konsep pengembangan ini tidak hanya berfokus pada peningkatan produksi tetapi juga memperhatikan kesejahteraan nelayan dan keberlanjutan ekosistem laut. Dalam hal ini, nelayan akan diberikan alat tangkap yang memadai serta dukungan dalam proses hilirisasi produk perikanan mereka.
Potensi Wilayah Pengelolaan Perikanan
Wilayah pengelolaan perikanan di Sumut dibagi menjadi dua, yaitu wilayah 572 dan 571. Wilayah 572 mencakup Kepulauan Nias, termasuk Nias, Nias Utara, Nias Barat, Nias Selatan, dan Kota Gunungsitoli, serta daerah pantai barat seperti Sibolga, Tapteng, Tapanuli Selatan, dan Mandailing Natal. Wilayah ini kaya akan komoditas perikanan, seperti:
- Cakalang
- Tongkol
- Tenggiri
- Tuna sirip kuning
- Kembung
Sementara itu, wilayah 571 mencakup pantai timur, dengan daerah seperti Langkat, Medan, Deli Serdang, Serdang Bedagai, Batubara, Tanjungbalai, Asahan, Labuhanbatu, dan Labuhanbatu Utara. Komoditas utama di wilayah ini meliputi:
- Kembung
- Tembang
- Kerang darah
- Cumi-cumi
- Tenggiri
Memperkuat Rantai Usaha Perikanan
Pengembangan kawasan unggulan perikanan tangkap di Sumut dirancang untuk tidak hanya meningkatkan volume produksi, tetapi juga untuk meningkatkan kesejahteraan nelayan. Dengan menjaga keberlanjutan ekosistem laut, Pemprov Sumut ingin memastikan bahwa usaha perikanan dapat berjalan secara berkelanjutan, memberi manfaat ekonomi jangka panjang bagi masyarakat pesisir.
Pengolahan Hasil Perikanan dan Nilai Tambah
Salah satu langkah penting dalam master plan adalah pengembangan kawasan pengolahan ikan asin di beberapa daerah seperti Sibolga, Asahan, Batubara, dan Tanjungbalai. Inisiatif ini diharapkan dapat memberikan nilai tambah bagi hasil tangkapan nelayan, serta membantu mengoptimalkan penggunaan sumber daya perikanan yang ada.
Jenny menegaskan, “Kami berharap potensi ikan yang melimpah di daerah ini dapat diolah menjadi produk ikan asin yang bernilai tinggi.” Ini adalah langkah strategis untuk memaksimalkan potensi lokal dan meningkatkan daya saing produk perikanan di pasar.
Kampung Nelayan Merah Putih
Pengembangan kawasan unggulan perikanan juga selaras dengan program Kampung Nelayan Merah Putih, yang telah dimulai pada tahun 2025. Program ini telah dilaksanakan di empat lokasi, yakni Langkat, Serdang Bedagai, Asahan, dan Batubara. Pada tahun 2026, rencana pembangunan akan meluas ke 11 wilayah di pantai timur dan 18 wilayah di pantai barat.
Potensi Budidaya Perikanan di Sumut
Kepala Bidang Budidaya, Pengolahan, dan Pemasaran Hasil Perikanan DKP Sumut, Muhammad Riza Kurnia Lubis, menyoroti bahwa Sumut memiliki potensi besar dalam sektor budidaya perikanan. Komoditas yang saat ini sangat diminati adalah udang vaname, yang terus menjadi pilihan utama dalam ekspor. Selain itu, pengembangan rumput laut juga menjadi fokus, mengingat adanya peluang pasar ekspor yang menjanjikan.
Peluang Ekspor Komoditas Perikanan
Riza menjelaskan, “Kami juga memberikan perhatian khusus pada pengembangan rumput laut, yang saat ini banyak diminati di pasar internasional.” Ini menunjukkan bahwa Pemprov Sumut tidak hanya berfokus pada hasil perikanan tangkap, tetapi juga berupaya meningkatkan budidaya yang berkelanjutan dan menguntungkan, sehingga dapat memperkuat perekonomian daerah dan kesejahteraan masyarakat nelayan.
Dengan langkah-langkah strategis yang diterapkan, diharapkan pengembangan kawasan perikanan unggulan di Sumut akan memberikan dampak positif yang signifikan, tidak hanya bagi nelayan tetapi juga bagi perekonomian secara keseluruhan. Upaya ini mencerminkan komitmen Pemprov Sumut dalam memajukan sektor perikanan yang berkelanjutan dan produktif.




