slot depo qris 10k slot depo 10k

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

Tapanuli

Hampir Setahun Banjir Berlalu, Warga Garoga Tapsel Masih Menunggu Sawah dan Kebun Pulih

<p>Di sejumlah tempat, jejak banjir masih terlihat jelas. Lumpur, kayu-kayu besar dan material lainnya masih menutupi lahan pertanian yang selama ini menjadi tumpuan hidup masyarakat.</p>

<p>Sebagian rumah warga memang telah mendapatkan tempat tinggal tetap yang dibangun pemerintah. Namun persoalan lain muncul ketika warga kembali menjalani kehidupan sehari-hari: dari mana penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga?</p>

<p>Sawah belum dapat ditanami. Kebun yang selama ini menjadi sumber penghasilan juga belum sepenuhnya bisa digarap. Bahkan, masih terdapat rumah warga yang tertimbun material banjir sehingga belum dapat ditempati.</p>

<p>Bagi masyarakat Garoga, kondisi tersebut bukan sekadar persoalan lahan yang rusak. Sawah dan kebun merupakan tempat mereka mencari nafkah, membiayai kebutuhan rumah tangga, menyekolahkan anak, sekaligus mempertahankan kehidupan sehari-hari.</p>

<p>Ketika lahan belum bisa kembali menghasilkan, sebagian warga harus mencari jalan lain untuk bertahan.</p>

<p>Berdiri di Pinggir Jalan, Berharap Uluran Tangan</p>

<p>Kondisi tersebut tergambar dari aktivitas sejumlah ibu-ibu yang berdiri di sepanjang jalan sambil membawa kardus. Mereka meminta sumbangan kepada pengendara yang melintas.</p>

<p>Pemandangan itu menjadi gambaran lain dari dampak bencana yang masih dirasakan masyarakat.</p>

<p>Bagi sebagian orang, banjir mungkin telah menjadi peristiwa masa lalu. Namun bagi warga yang kehilangan akses terhadap sumber penghidupan, dampaknya masih berlangsung hingga hari ini.</p>

<p>Tidak adanya aktivitas di sawah dan kebun membuat pendapatan keluarga ikut terhenti. Sementara kebutuhan hidup terus berjalan.</p>

<p>Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pemulihan setelah bencana bukan hanya tentang membangun kembali rumah yang rusak. Bagi masyarakat yang hidup dari pertanian, mengembalikan lahan agar dapat kembali menghasilkan juga menjadi bagian penting dari pemulihan.</p>

<p>Lumpur dan Kayu Masih Menutup Pekarangan Rumah dan Lahan</p>

<p>Kepala Desa Garoga, Risman Rambe, membenarkan kondisi tersebut ketika dikonfirmasi wartawan, Jumat (18/9/2026).</p>

<p>Ia mengatakan, sebagian besar masyarakat di desanya selama ini menggantungkan kehidupan dari sektor pertanian, terutama persawahan dan perkebunan.</p>

<p>Namun hingga kini, warga masih kesulitan kembali mengolah lahan karena material sisa banjir belum seluruhnya dibersihkan.</p>

<p>“Warga biasanya bertani ke sawah dan berkebun. Sekarang mereka belum bisa beraktivitas karena sawah dan perkebunan masih tertimbun lumpur dan kayu-kayu sisa banjir,” ujar Risman.</p>

<p>Menurutnya, kondisi tersebut berdampak langsung terhadap masyarakat yang sebelumnya memperoleh penghasilan dari sawah dan kebun.</p>

<p>Ketika lahan tidak dapat digarap, kesempatan warga untuk mendapatkan penghasilan secara normal pun ikut terhenti.</p>

<p>Membersihkan Lahan Menjadi Harapan</p>

<p>Di tengah kondisi tersebut, pembersihan material sisa banjir menjadi harapan utama masyarakat.</p>

<p>Lumpur tebal dan kayu-kayu besar yang menutupi lahan membuat warga tidak mudah membersihkannya secara mandiri. Padahal, semakin lama lahan tidak dapat digunakan, semakin panjang pula masa warga kehilangan sumber penghasilan.</p>

<p>Karena itu, warga berharap pemerintah dan pihak terkait memberikan perhatian terhadap pemulihan lahan pertanian.</p>

<p>Bagi mereka, membuka kembali sawah dan kebun berarti membuka kembali jalan untuk bekerja.</p>

<p>Masyarakat tidak hanya membutuhkan tempat tinggal setelah bencana. Mereka juga membutuhkan kesempatan untuk kembali produktif dan memenuhi kebutuhan keluarga dengan kemampuan sendiri.</p>

<p>Sawah dan kebun bagi warga Garoga bukan sekadar hamparan tanah. Di sanalah sebagian besar harapan keluarga ditanam dan dipanen.</p>

<p>Banjir bandang pada November 2025 memang sudah lama berlalu. Namun hingga September 2026, sebagian dampaknya masih membayangi kehidupan warga Desa Garoga.</p>

<p>Kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa pemulihan pascabencana tidak berhenti ketika masa tanggap darurat selesai atau ketika rumah warga kembali dibangun.</p>

<p>Bagi masyarakat yang menggantungkan hidup dari pertanian, pemulihan ekonomi merupakan bagian penting dari proses untuk benar-benar bangkit.</p>

<p>Selama sawah masih tertutup lumpur dan kebun masih dipenuhi material banjir, kehidupan warga belum sepenuhnya kembali seperti sebelum bencana.</p>

<p>Kini, warga Garoga masih menunggu langkah nyata untuk membersihkan lahan mereka. Mereka ingin kembali ke sawah, kembali ke kebun, dan kembali bekerja seperti dulu.</p>

Back to top button