Kapolda Aceh Paparkan Strategi Polri dalam Penanganan Bencana di Ngopi Kebangsaan IKAL

Dalam menghadapi tantangan bencana hidrometeorologi yang kian meningkat, peran Polri menjadi semakin krusial. Kapolda Aceh, Irjen Pol. Ruddi Setiawan, menjelaskan berbagai strategi yang diterapkan oleh Polri dalam penanganan bencana ini, baik saat tanggap darurat maupun pascabencana. Peningkatan kapasitas dan respons cepat dalam situasi darurat adalah kunci untuk memastikan keselamatan dan kesejahteraan masyarakat.
Strategi Polri dalam Penanganan Bencana
Dalam forum Ngopi Kebangsaan yang diselenggarakan oleh Ikatan Keluarga Alumni Lemhannas (IKAL) Aceh di D’Kupi Aceh Batoh, Banda Aceh, pada 12 September 2026, Ruddi memaparkan bahwa Polri tidak hanya hadir saat bencana melanda, tetapi juga berkomitmen untuk terus aktif dalam proses pemulihan pascabencana. Pendekatan ini bertujuan untuk mempercepat pemulihan masyarakat dan menjaga stabilitas struktural serta memperkuat ketahanan nasional.
Ruddi menjelaskan bahwa siklus rekonstruksi pascabencana yang dilakukan oleh Polri dimulai dengan serangkaian asesmen dan pemetaan. Ini mencakup:
- Identifikasi kerusakan yang terjadi
- Pemetaan kebutuhan mendesak
- Analisis potensi risiko yang mungkin muncul
Setelah tahapan awal tersebut, intervensi kemanusiaan dan psikososial pun dilakukan. Ini meliputi penyediaan bantuan kemanusiaan, layanan kesehatan, dukungan psikososial, serta perlindungan bagi kelompok rentan di masyarakat.
Restorasi Infrastruktur dan Kesejahteraan Sosial
“Berbagai langkah telah kami ambil dalam penanganan bencana, termasuk restorasi infrastruktur fisik,” jelas Ruddi. Ini mencakup pembangunan rumah tetap untuk korban bencana, perbaikan fasilitas publik, serta pembangunan infrastruktur dasar. Semua langkah ini merupakan bagian dari upaya untuk menstabilkan kondisi sosial-ekonomi dan memperkuat ketahanan nasional.
Selain itu, Ruddi menambahkan bahwa Polri juga telah membangun 265 titik sumur bor untuk menyediakan air bersih bagi masyarakat yang terdampak bencana. Rincian dari pembangunan sumur tersebut adalah sebagai berikut:
- 10 titik melalui program Kapolri
- 46 titik melalui program Kapolda Aceh
- 209 titik melalui program Aslog Kapolri
Dampak Strategis dalam Ketahanan Nasional
Menganalisis dari perspektif teori ketahanan nasional, Ruddi mengungkapkan bahwa tindakan mandiri Polri ini memberikan dampak yang signifikan dan komprehensif. Dari sisi keamanan, intervensi ini tidak hanya memperkuat human security, tetapi juga meningkatkan kepercayaan publik terhadap Polri.
Di bidang sosial budaya, pemulihan psikososial serta penyediaan hunian tetap berkontribusi pada pemulihan kohesi sosial di Aceh. Dari segi ekonomi, pemulihan infrastruktur yang cepat berfungsi untuk mencegah terjadinya kelumpuhan ekonomi lokal. Oleh karena itu, model intervensi berbasis siklus infrastruktur ini terbukti efektif dalam memulihkan ketahanan komunitas setelah bencana.
Relevansi Tema Ngopi Kebangsaan
Pernyataan Kapolda Aceh tersebut sejalan dengan tema yang diangkat dalam acara Ngopi Kebangsaan IKAL, yaitu “Akselerasi Rekonstruksi Aceh Pascabencana Hidrometeorologi Guna Memperkokoh Ketahanan Nasional.” Tema ini menggambarkan pentingnya kolaborasi dan aksi cepat dalam menghadapi dampak bencana.
Peran Alumni Lemhannas dan IKAL Aceh
Dalam kesempatan yang sama, Ketua DPD IKAL Aceh, Prof. Dr. Syahrizal Abbas, memberikan apresiasi terhadap kehadiran peserta dalam kegiatan Ngopi Kebangsaan ini. Ia menekankan bahwa acara ini tidak hanya menjadi sarana silaturahmi, tetapi juga platform untuk bertukar ide mengenai isu-isu strategis yang dihadapi bangsa.
Prof. Syahrizal juga menyampaikan bahwa jumlah alumni Lemhannas di Aceh yang aktif berpartisipasi dalam berbagai kegiatan cukup dinamis. Saat ini, terdapat belasan alumni yang terlibat aktif dalam IKAL Aceh, sementara total alumni yang pernah mengikuti program PPRA maupun PPSA dan kini berkontribusi di berbagai bidang mencapai lebih dari 200 orang.
“DPD IKAL Aceh berkomitmen untuk menjadi wadah bagi para alumni dalam memberikan pemikiran serta kontribusi nyata terhadap pembangunan bangsa. Oleh karena itu, Ngopi Kebangsaan ini bukan sekadar ajang silaturahmi, tetapi juga forum untuk mendiskusikan isu-isu strategis yang relevan,” tutup Prof. Syahrizal, yang juga merupakan Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Ar-Raniry Banda Aceh.



