Malam di Kedai Kopi Slemon tampak lebih hidup daripada biasanya, di mana tawa dan obrolan hangat menyelimuti suasana. Di tengah keramaian, Ucup Kenyot muncul dengan ekspresi ceria, seakan membawa kabar menarik dari dunia luar.
Drama Jatah Umroh Anggota Dewan
“Ada apa, Cup? Kenapa kamu kelihatan ngakak?” tanya Dek Yanti, penasaran dengan gelak tawa temannya.
“Aku baru saja menonton drama terbaru dari Komisi I DPRD Badar Kipung,” jawab Ucup, sambil mengedipkan mata.
“Drama apa itu?” Dek Yanti bertanya, semakin tertarik dengan cerita yang dibawa Ucup.
“Drama tentang jatah umroh anggota dewan!” ucapnya sambil tertawa, membuat perhatian semua orang beralih ke arah mereka.
Kegalauan Jatah Umroh
Din Bacut, yang mendengar percakapan tersebut, langsung memasang telinga. “Apakah ini lebih menarik daripada Dracin?” tanyanya, penasaran.
“Jauh lebih seru!” jawab Ucup dengan semangat. Dalam hearing yang berlangsung antara Komisi I dengan Bagian Kesra, Ketua Komisi I, Gustimini, mengajukan pertanyaan mengenai mekanisme pelaksanaan program umroh.
Din Bacut pun menyela, “Jadi, bukan hanya umrohnya yang dipermasalahkan, tetapi siapa yang berhak atas jatah dan bagaimana cara mendapatkannya?”
“Betul sekali!” sahut Ucup.
Jatah Umroh: Sejarah dan Realita
Konon, sejak lama, terdapat 50 anggota dewan yang memiliki jatah umroh. Memang, porsi yang didapatkan berbeda-beda: ketua mendapatkan lima kursi, wakil tiga, dan anggota biasa dua kursi. Dek Yanti pun segera menghitung dengan jari, “Kalau begitu, kursi DPRD bisa dianggap sebagai kursi yang mengantarkan kita ke Tanah Suci.”
Ubay Chalak, yang mendengar hal itu, tak bisa menahan tawa. “Jika jatah ini bisa diperjualbelikan, maka bukan lagi kursi menuju Tanah Suci,” tambahnya.
“Lalu, apa itu?” tanya yang lain.
“Kursi menuju rezeki,” jawab Ubay, yang membuat suasana semakin ceria.
Rumor beredar bahwa jatah umroh ini bisa dijual dengan harga berkisar antara Rp25 juta hingga Rp30 juta, membuat Dek Yanti terkejut, “Loh, ini ibadah atau pasar sih?”
Polemik Jatah dan Ibadah
Din Bacut yang sedang menyeruput kopi, menanggapi, “Jika benar demikian, berarti kita telah menemukan ilmu baru.”
“Ilmu apa itu?” tanya Ucup, penasaran.
“Caniago!” jawab Din dengan nada serius.
“Caniago?” Ucup menatapnya bingung.
“Cacing Jadi Nago!” jawab Din, dan spontan semua yang ada di kedai itu tertawa.
Ilmu Caniago dan Fenomena Jatah
“Di Dracin, ilmu Caniago mampu mengubah orang biasa menjadi dewa judi. Di Badar Kipung, mungkin ada ilmu yang jauh lebih sakti,” kata Din, menambahkan bumbu pada percakapan mereka.
“Apa itu?” tanya Ubay dengan rasa ingin tahu.
“Jatah Jadi Dewa,” jawab Din dengan senyum nakal.
Sementara itu, Kabag Kesra, Jon Mangkuelsi, memberikan penjelasan bahwa Pemkot tetap menyiapkan 1.000 kursi untuk umroh di tahun 2026, tanpa penambahan atau pengurangan.
Seleksi dan Transparansi
Namun, saat membahas siapa yang berhak menerima jatah tersebut, cerita mulai menarik. Dikatakan bahwa seleksi tetap akan dilakukan, meskipun ada calon yang ditunjuk langsung oleh wali kota. Gustimini pun meminta agar juklak dan juknis program dibuka dengan jelas.
Masalahnya, juknis tersebut disebutkan belum sampai ke Komisi I.
Ubay kembali menyela, “Jangan-jangan juknisnya sedang umroh juga.” Suasana di Kedai Slemon pun pecah dengan tawa.
Siapa yang Mengawasi Jatah?
Di balik tawa itu, muncul beberapa pertanyaan mendasar. Jika anggota dewan sudah memiliki jatah, siapa yang akan mengawasi pembagian jatah tersebut? Jika ada 1.000 kursi, siapa yang benar-benar akan duduk di kursi tersebut? Dan jika jatah bisa diperjualbelikan, siapa yang akan menjadi pembelinya?
Rakyat hanya memiliki KTP, sementara pejabat memiliki jabatan. Din Bacut mengangkat cangkir kopinya, “Dek, ternyata Caniago bukan hanya Cacing Jadi Nago.”
“Terus?” tanya Dek Yanti.
“Cacing Jadi Nago, Jatah Jadi Dewa, dan Kursi Jadi Dagangan,” jelas Din, yang membuat Dek Yanti menggelengkan kepala.
Refleksi atas Realita
“Pedas sekali perkataanmu, Din,” ujarnya sambil tersenyum.
“Bukan pedas, ini kopi,” jawab Din dengan nada santai.
Ubay menimpali, “Kalau begitu, judulnya?”
Din Bacut tersenyum lebar, “Dewa Jatah: Ketika Cacing Jadi Nago, Umroh Jadi Bancakan.”
Malam itu, mereka sepakat bahwa di Badar Kipung, ilmu yang paling sakti bukanlah Caniago, tetapi ilmu dalam mendapatkan jatah.
